Sabtu, 29 September 2012

Kebudayaan Bali, Omed - omedan, Menepis pornografi dan melestarikan budaya

  

Setiap daerah tentunya memiliki kebudayaan dan tradisi tersendiri. Misalnya kita ambil contoh di Bali. Bali merupakan pulau yang penuh dengan budaya dan tradisi. Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama hindu. Kebudayaan masyarakat Bali masih sangat kuat sehingga kegiatan-kagiatan yang di lakukan oleh masyarakat Bali bargantung pada budaya yang ada, misal tradisi omed - omedan (Sesetan).

Asal Mula
 
Omed - omedan, berasal dari kata 'Omed' yang berarti tarik, kemudian menjadi omed - omedan (tarik - menarik). Tradisi Omed- omedan di Banjar Kaja Sesetan sudah berlangsung turun- temurun, entah kapan mulainya, tidak ada yang tahu pasti. Menurut sesepuh adat ini dimulai sejak jaman kolonial Belanda di Bali. Cerita yang berkembang, konon ada penglingsir Puri Oka yang mengalami sakit. Penglingsir ini berharap agar rakyat di sekitar Puri (di wilayah Banjar Kaja sekarang) memahami dirinya yang sakit dan tidak membuat kegaduhan. Tak dinyana, ternyata ada sekelompok orang yang sengaja membuat gaduh dengan membuat permainan tarik - menarik tubuh.

Saat itulah kemudian Raja memanggil sekelompok orang tersebut (yang membuat gaduh) untuk datang ke Puri. dan tak disangka pemanggilan sekelompok orang itu malah membawa kesembuhan bagi pimpinan puri. Pemimpin puri pun menyarankan agar permainan tarik menarik ini dinamai Omed -omedan dan dilakukan usai peringatan Hari Raya Nyepi. Sejak saat itulah warga Banjar Kaja Sesetan mempopulerkan permainan omed- omedan ini. Pernah suatu ketika warga lupa mengadakan Omed- omedan, terjadilah wabah, tiba - tiba dua ekor babi saling baku hantam, membunuh di depan banjar tersebut, dan darahnya berceceran dan menjadi leteh (kotor). Sejak saat itu, maka Omed- omedan terus diselenggarakan tiap tahun.

Bergeser, Makna Tetap 
Sebelumnya permainan Omed- omedan ini dilakukan oleh para pria. Membagi kelompok, yang kemudian jago dari masing- masing pihak dilepas di tengah untuk saling tarik tubuh dengan cara memeluk erat – erat lawannya. Dalam perjalanan waktu, pada tahun 2000 an Omed- omedan ini diambil alih penyelenggaraannya oleh kelompok Sekaa Teruna (Muda Mudi). Pergeseran ini sudah lazim, karena sesuai dengan perkembangan jaman, tetapi tanpa mengurangi makna nilai sebelumnya, yakni membangun persaudaraan dan menguatkan silahturahmi antar warga banjar.

Memang benar, tuduhan praktek pornografi pada setiap penyelenggaraan Omed- omedan ini selalu menghujani Banjar Kaja Sesetan. Dituduh melegalkan praktek berciuman di depan umum. Tetapi kepercayaan dan adat istiadat warga banjar tidak akan pernah luntur sedikit pun. Itulah kekuatan Bali. Malahan banyak dukungan dari pemerintah kota Denpasar yang menilai Omed- omedan sebagai kekayaan budaya local atau diputuskan menjadi heritage.

Isu pornografi pun seakan ditepis bersama – sama. Warga akan lebih memilih melestarikan nilai kebudayaan adat daripada terdistorsi dan mendapati kejadian seperti dua ekor babi yang baku bunuh terulang kembali dan dianggap bencana akan melanda warga satu banjar. Pornografi hanyalah kekuatan hokum positif, tetapi membuat bencana bagi masyarakat local jika dipatuhi secara mutlak. Tentu saja masyarakat akan memilih hokum adatnya dan kebiasaan local kepercayaannya.

Ditinjau dari segi remaja, para muda mudi yang melakukan adegan peluk dan cium di Omed omedan ini mengaku melakukannya tanpa adanya nafsu, semua dilakukan dengan rasa kekeluargaan dan merasa semua peserta Omed omedan sebagai keluarga mereka sendiri. Hal ini juga untuk melepas penat dan menguatkan hubungan kekeluargaan para anggota sekaa Teruna teruni, mengingat Banjar Kaja terdiri dari 4 Tempekan, sehingga agak banyak dan susah kenal secara langsung.

Ritual yang tahun ini diberi tajuk “ Sesetan Heritage Omed Omedan Festival 2012” yang sekaligus dipersembahkan untuk memperkaya hasanah budaya Kota Denpasar sesuai Perda No. 8 tahun 2001 tentang pola pembangunan kota Denpasar.

Marilah kita senantiasa melestarikan tradisi di daerah, dengan menjunjung tinggi nilai - nilai tradisi dan budaya yang sudah diwariskan agar tidak hilang ditelan masa dan peradaban.

Sumber: (http://balitulen.blogspot.com/)
Referensi: Titin Mulyasih. Kebudayaan Bali (Omed - omedan). balitulen.blogspot.com
30 September 2012.