Jumat, 24 April 2015

Tata Cara Penulisan Ilmiah

PENULISAN ILMIAH

A. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:
1. Bagian Awal
a.       Halaman judul
o   Judul diketik dengan huruf besar (capital), hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.
o   Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas.
o   Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas.
o   Tahun penulisan
b.      Lembar Pengesahan.
o   Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk
o   Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Wakl/ Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi.
o   Lembar pengesahaan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan.
c.       Kata Pengantar dari penulis
d.      Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar table, dan daftar lampiran.
e.      Ringkasan karya tulis disusun sebanyak-banyaknya dua halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.
2.       Bagian Inti
a.       Pendahuluan
Bagian Pendahluan berisi hal-hal sebagai berikut :
o   Perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis, dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah.
o   Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan.
o   Mengandung pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan.
o   Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan.

b.      Landasan Teori
Landasan Teori berisi :
o   Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi/dibahas.
o   Uraian mengenai pendapat orang lain yang yang berkaitan dengan caramencari jalan keluar dari masalah yang diajukan.
o   Uraian mengenai implementasi kebijakan atau pengalaman – pengalaman yang sudah berhasil diterapkan pada tempat lain.

c.       Bagian isi/Pembahasan
o   Analisis permasalahan didasarkan pada data dan / atau informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan/ ide yang kreatif, inovatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis untuk dapat diimplementasikan.
o   Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan
o    Rekomendasi berupa transfer gagasan, langkah-langkah kegiatan untk menjawab permasalahan dan implementasinya di masyarakat.

3.       Bagian Akhir
a.       Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga membaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan.
o   Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit.
o   Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman.
o   Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat web site-nya dan tanggal pengambilan informasi.

b.      Daftar Riwayat Hidup (bio data atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tangal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
c.       Lampiran (jika diperlukan)

B.  Persyaratan Penulisan:
1.       Naskah ditulis mengunakan Bahasa Indonesia yang baku, minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan jumlah halaman tersebut dapat mengurangi penilaian.
2.        Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., dsb.
C. Pengetikan
1.       Tata Letak
a.       Karya tulis 1,5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, times New Roman style).
b.      Batas pengetikan :
o   Samping kiri 4 cm
o   Samping kanan 3 cm
o    Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
o   Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c.       Jarak pengetikan, Bab, Sub-sub dan perinciannya
o   Jarak pengetikan antara Bab, danSub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi.
o    Judul Bab diketik-ditengah tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi
o   Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
o   Judul anak Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 5 (lima) pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital) kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
o   Jika sudah ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.

2.       Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok kedalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
3.        Penomoran Halaman
a.       Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata daftar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya).
b.      Bagian tubuh / pokok sampaimdengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya).

c.       Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.

Sumber: http://mahmud-imrona.blogspot.com/2007/01/tata-aturan-penulisan-ilmiah.html

Tata Cara Penulisan Ilmiah

PENULISAN ILMIAH

A. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hendaknya berisi rancangan yang teratur sebagai berikut:
1. Bagian Awal
a.       Halaman judul
o   Judul diketik dengan huruf besar (capital), hendaknya ekspresif, sesuai dan tepat dengan masalah yang ditulis dan tidak membuka peluang untuk penafsiran ganda.
o   Nama penulis dan nomor induk mahasiswa ditulis dengan jelas.
o   Perguruan tinggi asal ditulis dengan jelas.
o   Tahun penulisan
b.      Lembar Pengesahan.
o   Lembar pengesahan memuat judul, nama penulis, dan nomor induk
o   Lembar pengesahan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing, dan Wakl/ Pembantu Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan lengkap dengan stempel perguruan tinggi.
o   Lembar pengesahaan diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengesahan.
c.       Kata Pengantar dari penulis
d.      Daftar isi dan daftar lain yang diperlukan seperti daftar gambar, daftar table, dan daftar lampiran.
e.      Ringkasan karya tulis disusun sebanyak-banyaknya dua halaman yang mencerminkan isi keseluruhan karya tulis, mulai dari latar belakang, tujuan, landasan teori yang mendukung, metoda penulisan, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.
2.       Bagian Inti
a.       Pendahuluan
Bagian Pendahluan berisi hal-hal sebagai berikut :
o   Perumusan masalah yang mencakup latar belakang tentang alasan mengangkat masalah tersebut menjadi karya tulis, dan penjelasan tentang makna penting serta menariknya masalah tersebut untuk ditelaah.
o   Uraian singkat mengenai gagasan kreatif yang ingin disampaikan.
o   Mengandung pertanyaan yang akan dijawab melalui penulisan.
o   Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan.

b.      Landasan Teori
Landasan Teori berisi :
o   Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi/dibahas.
o   Uraian mengenai pendapat orang lain yang yang berkaitan dengan caramencari jalan keluar dari masalah yang diajukan.
o   Uraian mengenai implementasi kebijakan atau pengalaman – pengalaman yang sudah berhasil diterapkan pada tempat lain.

c.       Bagian isi/Pembahasan
o   Analisis permasalahan didasarkan pada data dan / atau informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan/ ide yang kreatif, inovatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis untuk dapat diimplementasikan.
o   Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan
o    Rekomendasi berupa transfer gagasan, langkah-langkah kegiatan untk menjawab permasalahan dan implementasinya di masyarakat.

3.       Bagian Akhir
a.       Daftar pustaka ditulis untuk memberi informasi sehingga membaca dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan.
o   Penulisan daftar pustaka untuk buku dimulai dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, tempat terbit, dan nama penerbit.
o   Penulisan daftar pustaka untuk jurnal dimulai dengan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume dan nomor halaman.
o   Penulisan daftar pustaka yang diperoleh dari internet ditulis alamat web site-nya dan tanggal pengambilan informasi.

b.      Daftar Riwayat Hidup (bio data atau curriculum vitae) peserta minimal mencakup nama lengkap, tempat dan tangal lahir, karya-karya ilmiah yang pernah dibuat, penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
c.       Lampiran (jika diperlukan)

B.  Persyaratan Penulisan:
1.       Naskah ditulis mengunakan Bahasa Indonesia yang baku, minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman. Jumlah halaman yang tidak sesuai dengan ketentuan jumlah halaman tersebut dapat mengurangi penilaian.
2.        Bahasa Indonesia yang digunakan hendaknya baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll., dsb.
C. Pengetikan
1.       Tata Letak
a.       Karya tulis 1,5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, times New Roman style).
b.      Batas pengetikan :
o   Samping kiri 4 cm
o   Samping kanan 3 cm
o    Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
o   Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c.       Jarak pengetikan, Bab, Sub-sub dan perinciannya
o   Jarak pengetikan antara Bab, danSub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi.
o    Judul Bab diketik-ditengah tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi
o   Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
o   Judul anak Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 5 (lima) pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital) kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
o   Jika sudah ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.

2.       Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok kedalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
3.        Penomoran Halaman
a.       Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata daftar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya).
b.      Bagian tubuh / pokok sampaimdengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya).

c.       Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.

Kamis, 23 April 2015

SALAH NALAR

TUGAS BAHASA INDONESIA

SALAH NALAR
                                                                                 





                                   
            KELOMPOK 3 :

ANANGGA PRADIPTAYA                                      10112729
AVRILIDZANI EKA YUDHIARINI                      11112266
MUHAMMAD AZHAR RAMADAN                      14112897
DINA KUSUMA DEWI                                            12112164
TITIN MULYASIH                                                    17112405

KELAS : 3KA14












UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016
Definisi Salah Nalar

Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia  untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada  sehingga  sampai  pada  suatu simpulan, juga bisa merupakan Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.
Salah nalar dapat terjadi di dalam proses berpikir untuk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Dalam proses berpikir sering sekali kita keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, kecerobohan, atau ketidaktahuan.

Salah nalar ada dua macam:
1.    Salah nalar induktif, berupa :
  1. kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas.
  2. kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat.
  3. kesalahan analogi.
2.    Kesalahan deduktif dapat disebabkan :
  1. kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi.
  2. kesalahan karena adanya term keempat.  
  3. kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi.
  4. kesalahan karena adanya 2 premis negatif. Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.

            Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis misalnya.
Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.
Gagasan, pikiran, kepercayaan atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut sebagai salah nalar.

A.  Macam-macam Salah Nalar

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Ada beberapa macam salah nalar, yaitu sebagai berikut :

1.    Generalisasi yang Terlalu Luas

Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah. Selain itu, salah nalar jenis ini terjadi dikarenakan kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap “menggampangkan”, malas untuk mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
Premis adalah kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan simpulan di dalam logika. Sementara itu yang dimaksud dengan generalisasi adalah perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dari pada yang sebenarnya. Contoh Generalisasi yang terlalu luas sebagai berikut:
aSetiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
b)   Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
Ada dua bentuk kesalahan generalisasi yang biasa muncul. Dua bentuk kesalahan tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Generalisasi Sepintas
Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Masih banyak faktor penentu lain yang terlibat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.
b.   Generalisasi Apriori
Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama. Contoh: semua pejabat pemerintah melakukan tindakan korupsi. Benarkah pernyataan tersebut? Silahkan Anda jawab.

2.    Kerancuan Analogi
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Analogi adalah persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan, kiasan. Contoh dari kerancuan analogi adalah sebagai berikut:
  1. Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
  2. Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai sepeda motor.
  3. Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin devisi.

3.    Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat)
Kekeliruan kausalitas terjadi karena kekeliruan menentukan dengan tepat sebab dari suatu peristiwa atau hasil (akibat) dari suatu peristiwa atau kejadian. Contoh dari kekeliruan kausalitas (sebab-akibat) adalah sebagai berikut:
  1. Saya tidak bisa berenang karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
  2. Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan.
4.    Kesalahan Relevansi
Kesalahan ini akan terjadi jika antar premis tidak punya hubungan logika dengan kesimpulan. Misalnya, bukti peristiwa atau alasan yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang konklusi. Jadi, perlu berhati-hati, ketika sebuah argumen bergantung pada premis yang tidak relevan dengan konklusi, maka tidak mungkin dibangun kebenarannya. Terdapat beberapa jenis kesesatan relevansi yang umum dikenal, berikut penjelasannya:
  1. Argumentum ad hominem: terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak suatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
  2. Argumentum ad verecundiam: terjadi karena orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa dan dapat dipercaya, jadi bukan terjadi karena penalaran logis.
  3.  Argumentum ad baculum (menampilkan kekuasaan): terjadi apabila orang menolak atau menerima suatu argumen bukan atas dasar penalaran logis, melainkan karena ancaman atau terror (bisa juga karena faktor kekuatan/kekuasaan).
  4.  Argumentum ad populum (menampilkan emosi): artinya ialah ditujukan untuk massa/rakyat. Pembuktian secara logis tidak diperlukan, dan mengutamakan prinsip menggugah perasaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Contoh sederhananya seperti demonstrasi dan propaganda.
  5.  Argumentum ad misericordian (menampilkan rasa kasihan): disebabkan karena adanya rasa belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditunjukkan untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima, dan biasanya berhubungan dengan usaha agar suatu perbuatan dimaafkan.
  6. Post hoc propter hoc: terjadi karena orang menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal bukan. Pada suatu urutan peristiwa, orang menunjukkan apa yang terjadi lebih dahulu adalah penyebab peristiwa yang terjadi sesudahnya, padahal bukan.
  7. Petitio principii: berarti mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari apa yang berusaha untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.
  8. Argumentum ad ignorantiam (argumen dari keridaktahuan): kesalahan terjadi ketika berargumen bahwa proposisi adalah benar hanya atas dasar bahwa belum terbukti salah, atau bahwa itu adalah salah karena belum terbukti benar
  9.  Ignorantia elenchi: terjadi karena tidak adanya hubungan logis antara premis dan konklusi.

5.    Penyandaran Terhadap Prestise Seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya. Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:
a.                                   Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain.
b.        Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
c.         Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya.
Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.

B.  Mengapa Salah Nalar Sering Terjadi
Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Contoh penyebab yang salah nalar adalah sebagai berikut:
a.         Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
b.        Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

C.  Faktor Penyebab Terjadinya Salah Nalar
Terjadinya salah nalar, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh: Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
2.    Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh: Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak

D.   Cara Mengatasi dan Menghindari Salah Nalar
Ada beberapa cara untuk mengatasi dan menghindari salah nalar. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Memilih kata dengan baik;
  2.   Harus mengetahui teori dasar dalam berpikir;
  3. Sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas;
  4. Memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan;
  5. Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
  6. Jangan menyimpulkan premis dengan cepat;
  7. Dapat berkomunikasi dengan baik;
  8. Tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu kebenarannya; dan lain-lain.

Sumber :